Lanjut ke konten

PROSEDUR PEMBUATAN DAN PENGUJIAN MUTU BETON

oleh : Frysa Wiriantari

 ABSTRACT

In daily activities, the term of concrete is familiar enough for everyone as material foe construction of a building. The concrete is used as the main structure of a building, eventhough in the context within the srchitectural minimalist trend, the concrete usage is very high frecuency. On the other hand, many people don’t understand what the concrete is and how the quality related to the requrement of the construction and the building codes

The article is a content of analysis of some referent literature regarding the requirement of concrete as a material for building construction (such as : the creteria of the aggregate, the mud content, water quality, aggregate gradation and the cement factor)

The reseach result show that : (i) the making procedures and concrete quality test are consisted of five steps, ie (a) the main material preparation,(b) the concre mixture planning, (c) the concrete mixture processing, (d) the slump value difinite process and (e) the concrete quality test. (ii) all steps are an integrated processing those have to be passed in gainning the concrete qualiti according to the disire standart.

           

I.              PENDAHULUAN

1.1       Latar belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, beton merupakan salah satu bahan bangunan yang tidak asing lagi bagi semua orang. Pada umumnya bahan beton ini dipergunakan sebagai stuktur utama sebuah bangunan. Bahkan dengan adanya tren minimalis saat ini dimana penggunaan beton sangat dimaksimalkan mulai dari pondasi hingga atap menyebabkan beton menjadi suatu elemen yang penting dalam sebuah proyek.

Walaupun telah banyak orang yang menggunakan bahan beton, namun pada kenyataannya tidak banyak yang mengerti bagaimana membuat beton yang benar. Kalaupun sudah dipahami, seringkali dalam prakteknya orang melanggar prosedur yang sudah dipahami tersebut dengan berbagai alasan. Umumnya, dari sekian tahapan proses pembuatan beton hanya satu proses yang pasti dilalui yaitu mencampur bahan-bahan utama pembentuk beton seperti semen, pasir dan kerikil dengan perbandingan tertentu. Itupun kadang tidak dilakukan dengan benar atau tidak sesuai dengan yang ditulis dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat.

Krisis mutu beton, barangkali itulah akibat yang bisa terjadi dari  tindakan yang melanggar prosedur yang sudah ditetapkan tersebut. Karena tidak melewati proses secara benar, bisa dipastikan produk beton yang dihasilkan tidak bisa memenuhi standar mutu yang diharapkan. Penyebab lain dari krisis mutu ini adalah  tenaga kerja yang tidak berkompeten menangani pekerjaan tersebut, kurangnya kontrol terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan pekerjaan yang dilaksanakan secara terburu-buru.

Sengaja atau tidak sengaja, tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Perselisihan, pengulangan pekerjaan dan perbaikan kembali pekerjaan bisa terjadi karena mutu yang tidak bisa diterima. Semua komponen yang berkepentingan dalam pekerjaan beton, diharapkan kesadarannya untuk selalu menggunakan dan melaksanakan standar prosedur yang benar sebagai acuan dalam pekerjaan beton.

Melihat uraian di atas, maka perlu kiranya dibuat sebuah manual prosedur pembuatan dan pengujian beton yang mengacu pada standar ISO yang berlaku di negara kita. Manual prosedur ini tentunya akan sangat membantu menyamakan persepsi semua pihak yang terlibat dalam pembuatan beton agar kualitas beton yang dihasilkan memenuhi standar mutu yang diharapkan.

1.2  Rumusan Masalah

Beton  adalah termasuk bahan utama pembentuk  konstruksi bangunan. Untuk mendapatkan beton dengan mutu yang diharapkan, maka diperlukan prosedur standar pembuatan dan pengujian mutu. Oleh karena itu dari uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu masalah yaitu bagaimana prosedur pembuatan dan pengujian beton untuk bisa mendapatkan beton dengan standar mutu yang diharapkan?

1.3  Ruang Lingkup

Penulisan ini terbatas pada pemaparan proses pemeriksaan bahan pembentuk beton, perencanaan campuran beton, pembuatan beton, dan pengujian mutu beton yang sudah  jadi.

II.           PEMBAHASAN

2.1  Diagram Alir Pembuatan Campuran Beton

 

2.2  Pemeriksaan Bahan

2.2.1.                  Pemeriksaan Bahan Kerikil dan Pasir

  1. 1.      Kerikil
    1. Timbang kerikil seberat  5 kg.
    2. Kerikil dimasukkan dalam keranjang lalu direndam dalam bak air. Setelah kerikil  dikeluarkan dari bak air kemudian di lap dengan kain sampai permukaannya lembab.
    3. Didapat kerikil yang SSD untuk kemudian dapat digunakan sebagai bahan untuk percobaan campuran beton.
  1. 2.      Pasir.

a. Pasir basah diletakkan dan diangin-anginkan (dibalik-balikkan) selama   beberapa jam.

b.   Kemudian pasir diuji dengan memakai alat corong/kerucut  sebagai berikut :

  • Pasir diisi kedalam corong/kerucut dalam tiga lapis kemudian dimampatkan dengan  menjatuhkan tongkat besi berulang-ulang sebanyak 25 kali (lapis 1 dirojok 10 kali,  lapis 2  sebanyak 10 kali dan lapis 3 sebanyak 5 kali) dengan tinggi jatuh 5 cm.
  • Pasir yang diinginkan (dalam keadaan SSD) diusahakan  mempunyai bentuk yang tetap   hanya puncaknya yang sedikit longsor.
  • Pasir kering oven ditimbang seberat 500 gr
  • Kerikil kering oven ditimbang 500 gr
  • Pasir kering oven dicuci, sehingga air untuk mencuci pasir tersebut terlihat jernih. Kemudian di oven  kembali dan ditimbang beratnya.
  • Kemudian dicari kadar lumpurnya. Untuk pasir kadar lumpurnya harus <5%, sedangkanuntuk kerikil kadar lumpurnya harus <1%

2.2.2.   Pemeriksaan Kandungan Lumpur Untuk Pasir dan Kerikil

2.2.3.   Pemeriksaan Kadar Air

  • Pasir dalam keadaan sesungguhnya, bukan SSd ditimbang
  • Kerikil  dalam keadaan sesungguhnya, bukan SSd ditimbang
  • Keringkan pasir dan  kerikil tersebut dalam oven 100 C – 110  c selama 24 jam
  • Timbang pasir dan kerikil yang sudah dioven.
  • Dari pemeriksaan diatas diperoleh prosentase kandungan air pasir dan kerikil

2.2.4.   Pemeriksaan Berat Jenis Agregat

  1. 1.      Pemeriksaan Berat Jenis Agregat Halus
  • Timbang pasir yang sudah SSD sebanyak 500 gr  (A), berat pasir kering oven ( B )
  • Ambil piknometer lalu isi dengan air sebanyak 500 cc lalu timbang beratnya  ( C ).
  • Masukkan pasir SSD kedalam piknometer lalu masukkan air sampai mencapai tanda 500 cc.
  • Tutup mulut piknometer dengan telapak tangan lalu piknometer di bolak balik agar udara yang terperangkap diantara butiran pasir dapat keluar, sehingga permukaan air turun, tambahkan air lagi sampai permukaannya mencapai tanda batas 500 cc, kemudian timbang berat piknometer yang berisi pasir dan air tersebut ( D ).

Gambar 1

Batas Gradasi Dalam Daerah Gradasi Agregat Halus

  1. 2.      Pemeriksan Berat Jenis Agregat Kasar
  • Timbang kerikil  SSD   ( A )
  • Timbang kerikil kering oven  ( B ).
  • Masukkan  keranjang kawat berisi kerikil tsb kedalam bak air dan dicelupkan selama 15 menit  sehingga gelembung-gelembung udara dapat keluar,  kemudian ditimbang berat benda uji dalam air
  • Kerikil diangkat kemudian dilap dengan kain penyerap sampai selaput air pada permukaan hilang (SSD/jenuh kering permukaan), kemudian ditimbang beratnya.

Gambar 2

Batas Gradasi Dalam Daerah Gradasi Agregat Kasar

2.2.5.   Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat dan Semen

  • Pasir dan Kerikil yang digunakan dalam keadaan SSD.
  • Masukkan benda uji kedalam container dengan hati-hati agar tidak ada butiran yang keluar.
  • Ratakan permukaan pasir hinga rata dengan bagian atas container, dengan menggunakan sendok perata.
  • Timbang berat container yang berisi benda uji tersebut ( A ).
  • Container didisi air sanpai penuh kemudian ditimbang beratnya ( B ), sehingga volume container = ( B – A ) liter.
  • Satu set ayakan disusun secara berurutan dengan diameter lubang terbesar berada paling atas kemudian ayakan dengan diameter lubang lebih kecil dibawahnya.
  • Timbang 1500 gr pasir kering  ( setelah dioven )  lalu masukkan keayakan teratas (diameter 9,5mm ) dan ayakan tersebut ditutup.
  • Susunan ayakan diletakkan diatas mesein pengayak. Pengayakan dilakukan selama 10 menit.
  • Pasir yang tertinggal didalam masing-masing ayakan dipindahkan ketempat/bejana lain/diatas    kertas.   Agar tidak ada pasir yang tertinggal didalam ayakan, maka ayakan harus dibersihkan dengan sikat lembut.
  • Timbang masing-masing pasir tersebut. Penimbangan sebaiknya dilakukan secara komulatif, yaitu dari butir pasir yang kasar dahulu , kemudian ditambahkan dengan butir pasir yang lebih halus sampai semua pasirtertimbang. Catat berat pasir setiap penimbangan. Pada langkah ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak ada butir pasir yang hilang.
  • Modulus kehalusan pasir = jumlah % tertinggal komulatif pada tiap ayakan dari suatu seri ayakan yang ukuran lubangnya berbanding 2 kali lipat dimulai dari ayakan berukuran lubang 0,15 mm.

2.2.6.   Pemeriksaan Gradasi Pasir dan Kerikil

  1. 1.    Pemeriksaan Gradasi Pasir
  • Satu set ayakan disusun secara berurutan dengan diameter lubang terbesar berada paling atas kemudian ayakan dengan diameter lubang lebih kecil dibawahnya.
  • Timbang 1500 gr pasir kering  ( setelah dioven )  lalu masukkan keayakan teratas ( diameter 9,5 mm) dan ayakan tersebut ditutup.
  • Susunan ayakan diletakkan diatas mesein pengayak. Pengayakan dilakukan selama 10 menit.
  • Pasir yang tertinggal didalam masing-masing ayakan dipindahkan ketempat/bejana lain/diatas    kertas.   Agar tidak ada pasir yang tertinggal didalam ayakan, maka ayakan harus dibersihkan dengan sikat lembut.
  • Timbang masing-masing pasir tersebut. Penimbangan sebaiknya dilakukan secara komulatif, yaitu dari butir pasir yang kasar dahulu , kemudian ditambahkan dengan butir pasir yang lebih halus sampai semua pasirtertimbang. Catat berat pasir setiap penimbangan. Pada langkah ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak ada butir pasir yang hilang.
  • Modulus kehalusan pasir = jumlah % tertinggal komulatif pada tiap ayakan dari suatu seri ayakan yang ukuran lubangnya berbanding 2 kali lipat dimulai dari ayakan berukuran lubang 0,15 mm.
  1. 2.    Pemeriksaan Gradasi Kerikil
  • Diambil kerikil kering oven seberat 1500 gram.
  • Satu ayakan disusun secara berurutan dengan diameter lubang terbesar berada paling atas kemudian ayakan dengan diameter lubang yang lebih kecil dibawahnya.
  • Masukkan kerikil dengan berat 1500 gram kedalam ayakan yang paling atas.
  • Susunan ayakan diletakkan diatas mesin penggetar ayakan. Pengayakan dilakukan selama 10 menit sampai tidak ada lagi kerikil yang lolos pada masing-masing ayakan.
  • Timbang masing-masing kerikil tersebut. Penimbangan sebaiknya dilakukan secara komulatif, yaitu dari butir kerikil yang kasar dahulu , kemudian ditambahkan dengan butir pasir yang lebih halus sampai semua kerikil tertimbang. Catat berat kerikil setiap kali penimbangan . Pada langkah ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak ada butir kerikil yang hilang.
  • Modulus kehalusan kerikil  = jumlah % tertinggal komulatif pada  tiap ayakan dari suatu seri ayakan yang ukuran lubangnya berbanding 2 kali lipat dimulai dari ayakan berukuran lubang 0,15 mm

2.3              Perencanaan Campuran dan Pembuatan Beton

2.3.1.  Perencanaan Komposisi Beton

  • Hitung kuat tekan rata-rata.
  • f’cr  =   f’c   + m
  •  m =  9,84
  • Tentukan nilai factor air semen  ( f a s )  bebas.
  • Tentukan nilai slump
  • Tentukan ukuran maksimum kerikil
  • Tentukan kadar air bebas.
  • Jumlah semen  =  kadar air bebas/ f a s.
  • Jumlah semen minimum.
  •  Susunan butir agregat halus zone 2
  •  Persentase agregat halus
  •  Berat jenis relative agregat.
  •  Berat volume beton.
  •  Kadar agregat gabungan  = Berat volume beton –(jumlah semen +kadar air bebas )
  • Agregat halus.
  • Kadar agregat kasar.
  • Sebelum dipakai  cetakan beton bagian dalamnya diberi minyak pelumas atau oli agar beton yang   dicetak tidak melekat pada cetakan.
  • Timbang bahan sesuai kompsisi yang sudah ditetapkan.
  • Campur semua bahan dalam mesin pengaduk.
  • Setelah campuran dianggap cukup plastis, ukur nilai slumpnya.
  • Pengisian adukan beton dilakukan dalam  3 lapisan yang tiap lapisnya kira-kira bervolume yang sama.
  • Tiap lapis dirojok dengan batang baja penumbuk 25 kali, agar pori-pori yang terjadi seminimal mungkin.
  • Setelah dirojok ratakan bagian atas cetakan dengan tongkat perata.
  • Pindahkan cetakan yang sudah terisi beton kedalam ruangan yang lembab/laboratorium, diamkan
  • Selama 24 jam sebelum cetakan dibuka.
  • Setelah cetakan dibuka, tutupi beton dengan karung goni yang telah dibasahi air. Perawatan  dilakukan 2 hari sekali dengan menyiram beton dan karung goni dengan air selama 28 hari ( terhitung mulai saat  cetakan dibuka )
  •  Setelah umur 28 hari dilakukan uji kuat tekan beton untuk silinder

2.3.2. Pembuatan Beton

2.3.3. Penentuan Nilai Slum

Alat yang digunakan :

  • Cetakan berupa corong kerucut terpancung  dengan  diameter dasar 20 cm, diameter atas 10 cm dan tinggi 30 cm ( bagian atas dan bagian bawah cetakan terbuka ).
  • Tongkat pemadat dengan diameter 16 mm, panjang 60 cm, ujung bulat (dibuat dari baja tahan karat ).
  • Pelat logam dengan permukaan yang kokoh, rata dan kedap air.
  • sendok spesi/cetok.
  • penggaris/mistar.

 

Cara kerja :

  • Basahi kerucut terpancung dan pelat dengan kain basah agar tidak menyerap kandungan air  pada beton.
  • Letakkan kerucut terpancung diatas pelat.
  • Kerucut terpancung diisi dalam 3 lapis. Setiap lapis beton segera dirojok dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali. Perojokan harus merata selebar permukaan lapisan dan tidak boleh sampai masuk kedalam lapisan beton sebelumnya.
  • Setelah pemadatan terakhir, permukaan bagian atas diratakan dengan tongkat pemadat sehingga rata dengaan sisi atas cetakan.
  • Setelah itu didiamkan selama 1 menit.    kemudian kerucut diangkat perlahan-lahan tegak lurus keatas agar bagian bawah cetakan tidak menyentuh campuran beton.
  • Pengukuran nilai slump dilakukan dengan meletakkan kerucut disamping beton segar dan meletakkan penggaris/batang baja diatasnya mendatar sampai diatas beton segar.
  • Benda uji beton segar yang terlalu cair akan tampak bentuk kerucutnya hilang sama sekali, meluncur dan dengan demikian nilai slump tidak dapat diukur, sehingga benda uji harus diulang. Beton yang mempunyai perbandingan campuran yang baik adlah apabila setelah pengangkatan menunjukkan penurunan bagian atas secara perlahan-lahan dan bentuk kerucutnya tidak hilang.

2.3.4. Pengujian Kuat Tekan Beton

Alat yang digunakan :

  • Mesin desak ELE dengan kemampuan 2500 KN.
  • Plat.
  • Timbangan.

 

Jalannya Pengujian :

  • Ambil benda uji beton silinder yang telah berumur 28 hari kemudian permukaan benda uji beton tersebut di lap dan ditimbang masing-masing beratnya.
  • Letakkan benda uji pada tempat yang telah tersedia pada mesin desak.
  • Jalankan  mesin desak dan lakukan penekanan sampai benda uji hancur dan mencatat beban maksimum (P)  yang terjadi selama pemeriksaan benda uji.

2.3.5. Perhitungan kuat tekan Silinder :

Luas permukaan tekan ( F ) :

  •   =  15  cm.
  • F  = ¼ x 3,14 x  d2F  = ¼ x 3,14 x  ( 150 )2

= 17671,5 mm2

Kuat tekan beton ( fc ) :

fc =

dimana  P adalah Gaya Tekan

Menghitung Kuat tekan silinder beton rata-rata :

F cr = Jumlah semua  kuat tekan benda uji   dibagi dengan jumlah semua benda uji.

 

Menghitung Standar Deviasi

Dimana :  fc’     = kuat tekan beton

f’cm  = kuat tekan beton rata-rata

M = k x S

K = factor yang ada hubungannya dengan jumlah kubus.

Maka kuat tekan beton karakteristik  =  f’cr – M

III.                         PENUTUP

3.2.       Kesimpulan

Untuk memperoleh beton dengan mutu sesuai harapan, maka diperlukan sebuah standar prosedur sebagai acuan pengerjaan. Prosedur pembuatan dan pengujian mutu  beton terdiri atas lima tahapan. Adapun tahapan tersebut, antara lain:

  1. Tahap persiapan yaitu proses pemeriksaan bahan utama pembentuk beton
  2. Tahap kedua yaitu proses perencanaan campuran beton.
  3. Tahap ketiga yaitu proses pencampuran bahan pembentuk beton.
  4. Tahap keempat yaitu proses penentuan nilai slum.
  5. Tahap kelima yaitu proses pengujian mutu beton.

Seluruh tahapan ini merupakan satu kesatuan rangkaian yang seharusnya dilalui untuk mendapatkan mutu beton sesuai standar yang diharapkan.

3.3.                  Saran

Baik buruknya mutu suatu beton sangat tergantung pada kualitas bahan pembentuk,  proses pembuatan dan pengujian mutunya. Oleh karena itu untuk mendapatkan beton dengan standar mutu yang diinginkan, haruslah selalu berpedoman pada standar prosedur yang telah disepakati. Standar prosedur yang baku harus selalu dilaksanakan dan mendapat pengawasan yang ketat agar hasil yang diharapkan bisa diterima dengan baik oleh semua pihak.

Iklan

PROSES PEMECAHAN MASALAH DAN PERBAIKAN MUTU DENGAN KONSEP PDCA PADA PROGRAM STUDI ARSITEKTUR,FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS DWIJENDRA

oleh : Frysa Wiriantari

ABSTRACT

            Implementation of learning process in higher education refers to a quality standart based on valid ISO regulation, which in principle,every university must always guard and guarantee their higher education quality adopting a sustainable manner. University Dwijendra basically run the quality assurance process through external and internal processes are such as events and accreditation activities of self evaluation based on study program, meanwhale the internal processes are the quality assurance program, namely the activities on their own initiative (internalli driven) which aim to improve the ooutput quality of university and to remain their exsistance. But in case of engineering fakulty student, tere were already 39 student who officialy resigned from architecture study program. This marks that decline in the statisfaction of the stakeholders and users especially the student. If this continues happenning, it,s feared the publict trust will lost at all and quality assurance programs, particulary in the architecture study program can not run again as it should be.

            For that reason it must be reviewed and then analyzed the rrot of cause and look for a solution. A control management model used in the process of solving this problem is the PDCA model. But n this pepar the discusion is limited to the process of planning only.

            The study result show that : (i) the student must switched on campus, specially related to the main subject namely architektural design studio, (ii) the lecture are allow to another work (a private project) whitin the campus but its doesn’t mean that disturb hour lecture, (iii) trainning adminitrative staff in creating a data base and archiving files to any need of student and lecture so it can be obtain qiuckly, (iv) tradisional balinese architecture subjct is diverted into an relative subject and it’s designd on the archipilago architecture as a subtitution ane, and (v) lecture facilities especially for the drawing studio should be revivaled and condition as comfortable as possible, so that makes student and lecture fee confortable.

           

PENDAHULUAN

1.1.             Latar belakang

Sebagai sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi, universitas bertugas menyelenggarakan dan mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Seluruh proses pelaksanaan di Perguruan Tinggi ini akan mengacu pada suatu standar mutu yang dibuat berdasarkan ISO yang berlaku, dimana pada prinsipnya setiap Perguruan Tinggi harus selalu menjaga dan menjamin mutu pendidikan tinggi yang  diembannya secara berkelanjutan.

Penjaminan mutu di perguruan tinggi adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga dapat memenuhi keinginan dari para stakeholders. Dimana diadakan kegiatan pemantauan, evaluasi dan koreksi untuk penyempurnaan serta peningkatan mutu secara kontinyu dan sistematis  terhadap berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan tinggi sehingga dapat mencapai standar yang telah ditetapkan dalam visi, misi dan tujuan pendidikan tinggi.

Universitas Dwijendra sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota Denpasar pada dasarnya menjalankan proses penjaminan mutu melalui proses eksternal dan internal. Proses eksternal berupa kegiatan Akreditasi dan kegiatan Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED), sedangkan proses internal berupa program Penjaminan Mutu (Quality Assurance) yaitu kegiatan atas inisiatif sendiri (internally driven) yang bertujuan untuk meningkatkan mutu keluaran/output Perguruan Tinggi sebagai tanggung jawab kepada masyarakat (publik).

Program penjaminan mutu yang dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi, pada kenyatannya tidak sepenuhnya menarik minat masyarakat khususnya calon mahasiswa untuk melanjutkan sekolah pada Perguruan Tinggi tersebut. Apalagi dengan dibukanya program ekstensi pada perguruan tinggi negeri semakin mengurangi minat calon mahasiswa berkuliah di perguruan tinggi swasta.  Inilah yang menjadi keresahan di kalangan pengelola Pergurun Tinggi Swasta khususnya  Universitas Dwijendra.

Universitas Dwijendra memiliki 5 (lima) fakultas dan 6 (enam) Program studi. Dari 2 (dua) Program Studi yang mengalami penurunan jumlah mahasiswa, Teknik Arsitektur termasuk salah satu yang mengalami penurunan jumlah mahasiswa yang paling tinggi. Penurunan ini terlihat dari jumlah mahasiswa yang berminat masuk Program Studi Arsitektur yang secara garis besar menurun setiap tahunnya ditambah lagi dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang mengundurkan diri dalam masa studi. Data yang ada menunjukkan jumlah mahasiswa baru yang masuk pada tahun 2002 adalah 1 (satu) orang, tahun 2003 meningkat menjadi 20 orang, tahun 2004 menurun drastis menjadi 5 (ima) orang, tahun 2005 adalah 1 (satu) orang, tahun 2006 : 1 (satu) orang, tahun 2007 masuk 13 orang (dimana seluruhnya merupakan penerima beasiswa dari Pem. Prov Bali), tahun 2008 turun menjadi 6 (enam )orang dan tahun 2009 meningkat sedikit yaitu 12 orang.

Banyak mahasiswa yang mengundurkan diri di tengah masa studi dengan berbagai alasan. Dari tahun 2002 sampai tahun 2009, tercatat sudah 39 mahasiswa yang resmi mengundurkan diri dari Program Strudi Arsitektur. Ini menandakan turunnya kepuasan dari stakeholders khususnya para mahasiswa. Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan kepercayaan publik akan hilang sama sekali dan program penjaminan mutu khususnya pada Program Studi Arsitektur Universitas Dwijendra tidak bisa dijalankan lagi sebagaimana mestinya.

Untuk itu perlu kiranya dikaji kembali akar permasalahan dan kemudian dianalisa serta dicarikan solusinya. Salah satu model manajemen pengendalian u yang akan digunakan dalam proses pemecahan permasalahan ini adalah model PDCA (Plan, Do, Check, Action). Namun dalam tulisan ini pembahasan dibatasi hanya sampai proses Plan / perencanaannya saja.

1.2.       Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang ingin diungkapkan adalah:

1.      Apakah penyebab menurunya jumlah mahasiswa di Program Studi Teknik Arsitektur Universitas Dwijendra?

2.      Bagaimanakah alternative pemecahan masalah tersebut

 

II. PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum

Sebagai langkah awal proses pemecahan masalah untuk perbaikan, maka perlu ditinjau kembali data yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Adapun data yang dapat menggambarkan kondisi permasalah pada Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra  adalah data jumlah mahasiswa baru yang masuk, target penerimaan mahasiswa baru yang diharapkan, jumlah mahasiswa yang aktif dan jumlah lulusan per tahun. Data mahasiswa dari tahun 2002 sampai dengan 2009 pada Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra dapat dilihat dalam grafik berikut.

Gambar 1.

Pareto Chart: Jumlah Mahasiswa Baru dan Target Penerimaan Mahasiswa

 

 

Gambar  2.

Run Chart: Jumlah Lulusan, Mahasiswa yang Aktif, Mahasiswa Non Aktif

Dari grafik di atas, terlihat bahwa:

  1. Ada kecenderungan penurunan jumlah mahasiswa baru  setiap tahun.
  2. Jumlah mahasiswa baru yang masuk, jauh sekali dari target yang diharapkan.
  3. Jumlah lulusan sangat sedikit
  4. Ada kecenderungan penurunan jumlah mahasiswa yang aktif setiap tahun.
  5. Ada kecenderungan peningkatan jumlah mahasiswa non aktif.

Dari tahun 2002 hingga tahun 2009 ini tercatat ada 39 mahasiswa yang non aktif. Sedangkan jumlah lulusan pada program studi ini sangat sedikit yaitu maksimum 3 orang tiap tahun. Dari data jumlah mahasiswa ini, tergambarkan adanya kondisi yang jauh dari harapan pengelola universitas.

2.2.      PermasalahanYang Terjadi

Sebagai bahan kelengkapan data dan untuk membatasi permasalahan yang akan dipecahkan, penulis mengadakan wawancara kepada sejumlah mahasiswa yang masih aktif maupun kepada mahasiswa yang tidak aktif. Wawancara ini  bertujuan untuk menegetahui keluhan-keluhan mahasiswa selama belajar di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra. Dari data ini diharapkan permasalahan akan lebih terfokus atau lebih spesifik dan memungkinkan untuk dipecahkan.

Selain wawancara, cara yang dipakai untuk mengumpulkan pendapat mahasiswa adalah curah pendapat (brainstorming). Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi keluhan mahasiswa:

  1. 1.      Tugas-tugas kuliah yang banyak

Seperti diketahui bersama tugas seorang mahasiswa Fakultas Teknik khususnya teknik arsitektur sangat banyak, setiap mata kuliah memiliki tugas masing-masaing dengan bobot tugas yang besar. Hal ini menjadi masalah bagi mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur di Dwijendra karena sebagian besar mahasiswa yang berkuliah di Dwijendra adalah mahasiswa yang telah bekerja, sehingga waktu untuk mengerjakan tugas yang diberikan di kampus sangat minimal. Ditambah lagi mahasiswa tersebut sangat sulit mempertemukan jadwal bimbingan dengan dosen yang bersangkutan sehingga tugas-tigas tersebut baru dapat dilesesaikan dalam waktu yang lama bahkan tak jarang mahasiswa tidak mengumpulkan tugas tepat pada waktu yang telah disepakati.

  1. 2.      Sarana dan prasarana kurang

Sebagai salah satu universitas swasta yang sedang berkembang, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi salah satu masalah yang patut diperhitungkan. Bagi Program Studi Teknik Arsitektur,  ruang studio menjadi fasilitas yang mutlak diperlukan, sedangkan di Universitas Dwijendra ruangan studio ini tidak ada, adapun ruang yang ada adalah lab komputer dimana mahasiswa bisa memanfaatkan ruang tersebut sebagai tempat untuk mendisain atau menyelesaikan tugas. Namun sayangnya tidak semua tugas yang ada di mana perkuliahan dapat diselesaikan dengan komputer, sehingga ruang studio yang menggunakan mesin gambar tetap diperlukan. Hal ini menyebabkan mahasiswa menggambar di kampus hanya dengan menggunakan dua pasang penggaris segitiga siku dan sangat mempengaruhi kualitas desain mahasiswa disamping juga waktu yang dipergunakan menjadi tidak efektif.

 

  1. 3.      Skripsi susah dan lama

Tugas akhir mahasiswa teknik arsitektur berbeda dengan tugas akhir mahasiswa S1 pada umumnya, dimana bagi mahasiswa teknik arsitektur tugas akhir terdiri dari 2 bagian, yaitu Landasan Konseptual (Skripsi) dan Karya desain (penjabaran hasil skripsi dalam bentuk gambar) yang dilengkapi dengan maket. Banyaknya hasil yang harus diselesaikan oleh mahasiswa untuk tugas akhir sering menyebabkan pengumpulan hasil yang tidak tepat waktu dan ditambah lagi karena mahasiswa memiliki keterbatasan waktu pengerjaan karena kuliah sambil bekerja.

  1. 4.      Penekanan pada Arsitektur Tradisional Bali

Pada awalnya Dwijendra didirikan karena adanya teknik arsitektur tradisional Bali dimana pada waktu itu menjadi unggulan untuk menarik simpati calon mahasiswa. Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini keberadaan arsitektur tradional sering menjadi ketakutan tersendiri bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa yang masuk ke Program studi Arsitektur Dwijendra, karena selain bobot mata kuliah yang berat, tugas yang diberikan cukup sulit dan memerlukan pendalaman materi yang cukup banyak ditambah lagi dengan survey-survey yang dilakukan ke daerah-daerah yang memiliki keunikan bagunan dan pola desa tradisional.

  1. 5.      Promosi kurang

Salah satu penyebab kurangnya minat masyarakat dalam hal in adalah calon mahasiswa karena ketidaktahuan mereka tentang keberadaan PS Arsitektur di Universitas Dwijendra, salah satu penyebabnya adalah kurangnya promosi yang dilakukan oleh seluruh dosen dan staf yang berada di lingkungan teknik arsitektur itu sendiri.  Jika dilihat dari RABnya, fakultas teknik hanya menganggarkan Rp. 500.000,- persemester untuk biaya promosi. Hal ini tentu dinilai sangat minim mengingat besarnya biaya publikasi yang harus dikeluarkan dalam setiap pemunculan di TV atau membuat baliho dan spanduk-spanduk sebagai salah satu usaha promosi.

Dari masalah tersebut diadakan perengkingan dan penilaian dengan cara, keluhan dengan rengking 1 mendapat nilai 6, keluhan dengan rengking 2 mendapat nilai 5, keluhan dengan rengking 3 mendapat nilai 4, dan seterusnya.

Hasil penilaian terhadap perengkingan keluhan di atas dapat diurutkan seperti terlihat dalam grafik berikut ini:

Gambar 3.

Pareto Chart: Urutan Keluhan Mahasiswa

Dari data di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah yang paling dikeluhkan mahasiswa adalah tugas kuliah yang terlalu banyak dan lama diselesaikan. Banyak mahasiswa yang mundur di tengah jalan karena tidak sanggup menyelesaikan tugas. Hal ini tentu saja membuatnya tidak lulus dan harus ditempuh lagi pada semester berikutnya. Pada akhirnya berdampak pada biaya kuliah yang harus dikeluarkan lagi untuk mata kuliah yang sama. Jumlah uang yang dikeluarkan akan menjadi lebih besar dari jumlah uang kuliah yang sebelumnya karena hampir setiap tahun selalu ada peningkatan biaya (sesuai kebijakan universitas).

Untuk memecahkan persoalan ini maka terlebih dahulu perlu ditetapkan tujuan penyelesaian, lalu diuraikan semua hal yang mungkin menjadi penyebab masalah di atas. Adapun tujuannya adalah mengatur ulang materi dan tugas kuliah dan menetapkan jadwal bimbingan yang pasti. Dalam teori manajemen mutu digunakan prinsip diagram tulang ikan (fishbone diagram) untuk membantu menggambaran kondisi yang ada agar mempermudah pemecahannya.  Diagram ini akan menunjukkan kumpulan dari kelompok sebab-sebab sebagai faktor serta akibat yang timbul sebagai karakteristik mutu.

Dalam permasalahan ini, fishbone diagram dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.

 Diagram Tulang Ikan (Fishbone Diagram)

Penyebab banyaknya mahasiswa yang mundur dari perkuliahan pada Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra adalah karena tugas-tugas kuliah yang banyak dan lama diselesaikan. Sementara faktor penyebab dari pokok permasalahan itu dapat diuraikan sebagai berikut:

Mahasiswa:

  1. Mahasiswa sering menunda dalam mengerjakan tugas sehingga tugas menjadi menumpuk.
  2. Mahasiswa tidak mengerti dengan maksud dan tujuan tugas.
  3. Mahasiswa juga sering tidak aktif di kampus karena mungkin terkendala tugas yang belum selesai dan  fasilitas belajar yang kurang (belum ada studio dengan sarana meja dan mesin gambar).
  4. Mahasiswa tidak sanggup menyelesaikan semua tugas karena keterbatasan waktu.

 

Dosen:

  1. Dosen memberikan banyak tugas dengan tujuan agar mahasiswa lebih aktif mencari bahan dan memahami materi kuliah.
  2. Dosen sering banyak aktif di luar kampus, sehingga mahasiswa jarang bertemu dosen. Akibatnya sering tidak ada kuliah.
  3. Jadwal bimbingan tugas (asistensi) tidak ditentukan jumlah minimalnya. Ini menyebabkan mahasiswa cenderung molor dalam mengerjakan tugas.

Staf Aministrasi:

  1. Proses administrasi sering tidak lengkap dan memerlukan waktu lama untuk mendapatkannya, sehingga mahasiswa kesulitan untuk mencari data atau surat. Contoh: untuk mencari surat rekomendasi survey perlu waktu lama, mengingat surat tersebut harus dibuat di Program Studi dan disetujui oleh Dekan, setelah itu dikirim ke Universitas untuk mendapat persetujuan dari Rektor. Proses keseluruhannya memakan waktu hamper 1 minggu.
  2. Tidak bisa memberikan data kepada mahasiswa secara cepat.

Adanya keterbatasan SDM dan fasiltas pendukung diantaranya tidak adanya  sistem LAN (Local Area Network) menyebabkan proses penginput-an data menyadi lama dan memerkulan waktu yang lama, begitu juga dengan proses mencarian datanya, sistem manajemen data yang tidak baik menyebabkab data tersebut sering lama dan sulit diperoleh.

Mata Kuliah:

  1. Ada satu mata kuliah yang ternyata menjadi momok di kalangan mahasiswa yaitu Arsitektur Tradisional Bali I sampai dengan III. Mata kuliah ini dirasa cukup berat dan banyak mahasiswa mundur ketika mengambil mata kuliah itu. Apalagi mata kuliah tersebut adalah mata kuliah bersyarat yang artinya jika mahasiswa tidak lulus di Studio Arsitektur Tradional I mereka tidal diperkenankan untuk mengambil mata kuliah Studio Arsitektur Tradisional II dan seterusnya. Padahal mata kuliah ini menjadi unggulan pada Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra.
  2. Mata kuliah studio perancangan sebagai mata kuliah utama di Program Studi Arsitektur membutuhkan waktu yang paling lama dalam penyelesaian.

 

Biaya mengerjakan tugas kuliah:

  1. Biaya dalam mengerjakan tugas yang cukup tinggi seperti kertas gambar (kalkir), media untuk mewarna, rapido, foto-foto serta maket yang harus digunakan dalam setiap tugas. Ditambah lagi dengan biaya untuk survey yang menjadi tinggi, karena pengamatan/survey dilakukan dalam waktu yang cukup lama.

Sarana dan Prasarana:

  1. Ruang studio arsitektur yang terbatas sehingga mahasiswa tidak dapat mengerjakan tugas dengan baik dan nyaman di kampus. Karena kurangnya fasilitas, dosen juga sering mempersilakan mahasiswa untuk mengerjakan di luar kampus. Hal ini ternyata berdampak negatif, karena disamping banyak godaan di luar kampus sehingga tidak bisa mengerjakan tugas, kemungkinan tugas dikerjakan bukan oleh mahasiswa itu sendiri. Akibatnya penyelesaian tugas memerlukan waktu yang lama dan tidak terkontrol.

2.3.            Proses Pemecahan Masalah

Tabel 1

Proses Pemecahan Masalah di PS Arsitektur Fak. Teknik Universitas Dwijendra

 

 

No

Alternatif Pemecahan Masalah

Pihak yang terlibat

Waktu

dilaksanakan

Rencana cadangan

Metoda Pemantauan

1 Tugas yang diberikan harus segera ditindaklanjuti, bila tidak mengerti segera tanyakan supaya apa yang akan dicari dan dikerjakan menjadi jelas Mahasiswa

DosenPada saat peluncuran tugas dari dosenDibuatkan tor tugas yang jelas /detail dan disebarkan ke masing-masing mahasiswaDipantau setiap minggu, dicatat dalam daftar kemajuan prestasi Mahasiswa harus lebih aktif di kampus agar informasi dalam mengerjakan tugas dapat diperoleh dengan cepat, baik melalui bimbingan ataupun diskusi dengan teman.Mahasiswa

DosenSetiap hari kuliahDisediakan fasilitas senyaman mungkin dan lengkap sehingga mahasiswa termotivasi ke kampus.Absensi minimal 80% dari kehadiran dosen dan pekerjaan diberi bobot penilaian setiap minggu.2Tugas kuliah harus diatur porsinya agar sesuai dengan waktu yang tersedia.DosenDirencanakan di awal perkuliahanDibuatkan batasan dan simulasi tugas.Kemajuan prestasi per minggu.3Dosen diharuskan setiap hari berada di kampus agar tersedia banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk bimbingan tugas.DosenSetiap jam kuliahDibuatkan kebijakan antara dosen dengan pemegang kebijakan dikampus untuk mengijinkan dosen arsitektur mengerjakan proyek luar kampus di dalam area kampus asal tidak mengganggu kegiatan yang lainnyaAbsensi kehadiran dosen setiap hari Pastikan jadwal bimbingan tugas sebagai alat kontrol untuk memantau kemajuan prestasi tugas mahasiswaDosenSetiap jam kuliahKartu bimbingan harus dikumpul bersamaan dengan tugas.Selalu membuat Time Schedulle perkuliahan.3Staf administrasi dilatih untuk membuat data base dan mengarsipkan file terkait dengan kebutuhan mahasiswaStaf administrasiSetiap hari kerjaStaf administrasi diberi pelatihan/ kursus di luar jam kerjaDibuatkan cek list hal-hal apa yang masih lemah setiap minggu4Perlu dipertimbangkan lagi porsi mata kuliah Arsitektur Tradisional Bali agar tidak terasa memberatkan bagi mahasiswaTim dosenAwal tahun ajaran dan pada saat proses perubahan kurikulum yaitu setiap 4 tahun sekaliMata kuliah Arsitektur Tradisional Bali dijadikan mata kuliah pilihan dan dibuat matakuliah mengenai arsitektur nusantaraDiuji cobakan secara bertahap dan dilihat perkembangan

kemudian5Meminimalisir pengeluaran biaya dalam tugas, dengan cara menjelaskan tugas secara detail dan tidak membingungkan.Dosen

MahasiswaSetiap jadwal kuliahMemperlihat-kan sampel/ model tugas dan tunjukkan apa yang berbeda dari tugas yang diberikan

Kartu bimbingan/ asistensi6Menambah satu fasilitas ruang studio yang nyaman dan dilengkapi dengan meja gambar serta sarana lainnya.Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas DwijendraSesegera mungkinDibangun satu fasilitas lagi berdampingan dengan studio komputer.Dibentuk Tim Pelaksana tugas untuk membuat proposal pengadaan studio dan tim pengelola studio.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Masalah menurunnya jumlah mahasiswa pada Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra lebih disebabkan karena tugas-tugas kuliah yang banyak dan perlu waktu lama untuk penyelesaiannya. Faktor-faktor penyebab kenapa hal ini terjadi telah dianalisa dalam proses pemecahan masalah untuk tujuan perbaikan mutu.

Dari proses pemecahan masalah di atas, dapat diambil suatu kesimpulan yang sekaligus merupakan keputusan dari penyelesaian masalah tersebut. Adapun keputusan yang bisa diambil antara lain:

  1. Para mahasiswa harus diaktifkan di kampus terutama terkait dengan mata kuliah utama yaitu Studio Perancangan Arsitektur. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih terpantau dalam menyelesaikan tugas.
  2. Para Dosen diperkenankan mengerjakan pekerjaan lain (proyek) di dalam kampus asal tidak mengganggu jam kuliah (KBM). Tujuannya adalah agar dosen selalu stand by di kampus dan bisa membimbing mahasiswa. Time Schedulle perkuliahan harus diedarkan pada awal kuliah.
  3. Pelatihan untuk staf administrasi dalam  membuat data base dan mengarsipkan file agar apapun keperluan mahasiswa dan dosen dapat diperoleh dengan cepat.
  4. Mata kuliah Arsitektur Tradisional Bali dialihkan menjadi mata kuliah pilihan dan dirancang mata kuliah mengenai arsitektur nusantara, dengan tujuan agar lebih menarik minat calon mahasiswa dari luar daerah Bali dan agar mahasiswa lebih kaya pengetahuannya tentang arsitektur di Indonesia. Sementara Arsitektur Tradisional Bali bisa dipilih atau diperdalam pada saat semester atas. Metode pengajaran arsitektur Tradisional inipun perlu dirubah agar lebih singkat namun padat isinya. Misalnya dengan bantuan video dan animasi 3D sehingga lebih mudah dipahami mahasiswa.
  5. Biaya kuliah yang dikeluarkan ketika menempuh studi di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra pada dasarnya tidak bisa dikurangi terlalu banyak (dalam artian sudah standar). Yang harus dikendalikan adalah biaya per semester jangan dinaikkan setiap tahun karena akan dapat menambah beban para mahasiswa.
  6. Fasilitas perkuliahan khususnya ruang studio gambar dibangun kembali dan dikondisikan senyaman mungkin sehingga membuat betah para mahasiswa dan dosen.

3.2 Saran

  1. Demi menjaga citra/reputasi, hendaknya Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra segera mengambil solusi untuk pemecahan masalah yang dialaminya. Keenam keputusan pemecahan masalah di atas dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat rencana perbaikan/peningkatan mutu Program Studi.
  2. Kepuasan stakeholders harus diutamakan. Daya saing organisasi juga harus dimaksimalkan. Oleh karena itu proses pengendalian mutu pada Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Dwijendra harus dilakukan secara terus menerus baik terhadap mutu lulusan, sumber daya pengelola, proses belajar mengajar dan lingkungannya (Total Quality Management).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Buku Pedoman Studi Universitas Dwijendra, UNDWI-PPMUD, Univ Dwijendra 2009
  2. Rincian Biaya Kuliah Univ Dwijendra, Penerimaan Mahasiswa Baru TA 2008/2009
  3. www.bpkpenabur.or.id , Dr Theresia Kristianty, ”Peningkatan Mutu Pendidikan Terpadu Cara Deming”, Jakarta.
  4. http://www.eng.unri.ac.id, Margono Slamet “Prinsip-prinsip Manajemen Terpadu dan Penerapannya di PT” IPB, Bogor

Halo dunia!

Selamat datang di WordPress.com! Ini adalah postingan pertama Anda. Klik Sunting untuk memodifikasi atau menghapusnya, atau tulis postingan baru. Kalau mau, gunakan postingan ini untuk menyampaikan kepada para pembaca mengapa Anda membuat blog ini dan apa rencana Anda selanjutnya.

Selamat ngeblog!